3. Aerator bertenaga surya (solar powered aerator)
Sudah jamak diketahui jika air yang
tergenang dalam jangka waktu yang cukup lama akan membawa banyak
“kemudharatan”. Baik kolam di taman belakang rumah hingga tambak ikan
air tawar ketika ia dibiarkan saja tanpa mengalir, tanpa tersirkulasi,
bisa jadi dapat menjadi sumber penyakit, tidak sehat serta merusak baik
yang ada di dalamnya maupun lingkungan disekitarnya. Kondisi ini dapat
makin diperparah dengan munculnya bakteri dan tetumbuhan yang tidak
dikehendaki di permukaan air. Indikator tingkat sehatnya genangan
air/kolam/tambak ikan ini biasanya ditentukan dengan kadar dissolved oxygen
(DO) atau oksigen terlarut di dalam air yang menunjukkan berapa kadar
oksigen yang ada di dalam air yang dinyatakan dengan miligram per liter
(mg/l).
Jika kondisi kolam atau tambak ikan air
tawar -misalnya- tidak terjaga akibat tidak adanya sirkulasi air, maka
kadar DO akan berkurang drastis. Selain kondisi fisik kolam yang tidak
memiliki sirkulasi air karena satu lain hal, tetumbuhan di permukaan air
seperti alga pun dapat semakin mengurangi kadar DO ketika
bermetabolisme di malam hari dengan mengkonsumsi oksigen di dari dalam
air.
Ketika air tidak mengalir atau
tersirkulasi, maka terdapat perbedaan suhu antara air di permukaan
dengan air di bagian bawah dasar kolam akibat perbedaan serapan panas
dari cahaya matahari. Dikarenakan oleh air di permukaan kolam lebih
hangat sehingga lebih ringan, kedua air yang berbeda suhu tersebut tidak
dapat bercampur satu sama lain. Sehingga air di bagian dasar kolam
tidak mudah “bergerak” vertikal dan bersirkulasi ke permukaan begitu
pula sebaliknya air di permukaan tidak dapat bersirkulasi ke bagian
dasar. Terjadilah apa yang disebut dengan kekurangan oksigen (oxygen depletion)
pada air di bagian dasar kolam akibat tidak tersentuh oksigen dari luar
yang memicu munculnya senyawaan beracun dan membahayakan yang
diproduksi oleh bakteri maupun sampah organik yang mengendap di dasar
kolam. Ini akan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi kolam ikan.
Pencegahan kondisi terburuk seperti di atas
pada umumnya dilakukan dengan sistem mekanik. Yakni mensirkulasikan
atau mengaduk air di kolam secara mekanik agar air di permukaan dengan
air di bagian dasar bercampur secara merata yang tentunya pula
menyamakan suhu air di permukaan dengan air di bagian dasar kolam.
Caranya bisa dilakukan dengan sistem a la kincir air maupun dengan
mengalirkan gelembung-gelembung udara ke dalam kolam agar baik air
maupun oksigen dari udara dapat terdistribusi di dalam air. Usaha
terakhir dengan mengalirkan gelembung-gelembung udara ke dalam air
disebut dengan aerator sebagaimana diilustrasikan pada Gambar 3.
Gambar 3. Solar aerator yang terpasang di sebuah danau kecil.
Tentunya sistem aerator ini membutuhkan
listrik dalam pengoperasiannya. Kendala listrik sayangnya masih ditemui
terutama di daerah di mana peternak ikan air tawar/kolam/tambak
merupakan daerah pedesaan yang minim akan pasokan listrik atau jauh dari
jaringan kabel.
Penggiat dan kalangan industrialis sel
surya agaknya menangkap peluang ini. Dengan beberapa perubahan dan
penyesuaian pada sistem aerator konvensional, dicobalah aerator yang
digerakkan dengan sel surya. Konsepnya tidak jauh berbeda dengan pompa
air bertenaga surya, aerator bertenaga surya ini memiliki sebuah panel
surya, dan dilengkapi dengan baterei sebagai cadangan listrik jika
sewaktu-waktu langit menjadi gelap atau adanya keinginan untuk
mempergunakan aerator pada malam hari.
Aerator ini menyedot udara dari luar dan
mengalirkannya ke dalam kolam melalui pipa pengalir. Aerator bertenaga
surya dapat dikonsepkan dengan dua jalan; meletakkan pompa udara di atas
kolam maupun meletakkan pompa udara di dalam kolam. Dengan aerator berdaya 75-125 W, diharapkan nantinya kadar oksigen di dalam kolam dapat selalu dijaga.
4. Pengisi baterei bertenaga surya (Solar charger)
Bagi yang sering berpergian untuk segala
bentuk rutinitas; pengusaha, wartawan, dokter atau mantri yang turun
naik gunung-desa, nelayan yang mengandalkan GPS untuk menuntun arah
pulang, hingga pendaki gunung, mungkin persoalan komunikasi dan
informasi menjadi mutlak. Tidak hanya berkomunikasi untuk keperluan
pekerjaan, melainkan pula untuk saat saat darurat yang tidak terduga.
Di sini tidak hanya bentuk komunikasi yang
penting, namun bagaimana menjaga agar komunikasi tersebut terjamin dapat
berlangsung. Sebagaimana diketahui bersama, teknologi baterei sekarang
telah maju pesat; tidak hanya beterei kering karbon saja, namun juga
baterei Ni-Cd (nikel kadmium) hingga baterei Li-ion yang jauh lebih
rungan, lebih tahan lama dan ramah lingkungan sudah dapat dinikmati
sehari-hari sebagai sumber tenaga untuk menjalankan perangkat yang mudah
di bawa ke mana-mana (portable).
Dikarenakan keterbatasan baterei yang
merupakan fungsi waktu dalam memberikan tenaga bagi perangkat portable,
maka pengisian ulang menjadi solusi yang terbaik. Berbagai perangkat
elektronik portable sejak komputer jinjing, telepon genggam, pemutar
musik dijital hingga televisi portable menggunakan baterei isi ulang (rechargeable battery)
. Persoalan yang hinggap kemudian ialah bagaimana ketika sumber listrik
untuk pengisian ulang baterei ini yang justru menjadi kendala. Sulitnya
akses untuk pengisian baterei di kala berpergian, hingga kendala teknis
ketidakcocokan perangkat dengan spesifikasi litrik setempat bisa
membawa kerumitan tersendiri.
Penulis sempat mengalami hal demikian di
kala berpergian ke sebuah negara yang memiliki sistem instalasi listrik
yang berbeda. Segala perangkat baik baterei hingga pengisi baterei (charger)
telah di bawa, namun kendala teknis ketidakcocokan tegangan listrik di
negara tersebut untuk pengisi yang di bawa telah menjadi sebuah
pengalaman berharga bahwa ada satu celah di mana keterbatasan baterei
isi ulang dan pengisinya dapat menjadi sebuah terobosan yang bermanfaat.
Terobosan yang dimaksud tidak lain ialah
bagaimana menyediakan sumber listrik itu sendiri yang dapat digunakan di
mana-mana sebagai sumber tenaga bagi charger
untuk mengisi baterei isi ulang di atas. Jika seorang ingin mengisi
baterei komputer jinjing atau telepon genggamnya dalam sebuah
perjalanan, hanya dengan membuka sebuah perangkat sel surya yang
terkemas sedemikian rupa, maka seluruh kebutuhan sumber listrik untuk
pengisian baterei akan terpenuhi.
Gambar 4. Solar charger
Sebagai mana terpampang di Gambar 4, sumber
listrik untuk pengisian baterei isi ulang ini terdiri atas satu atau dua
buah sel surya mini yang ukurannya disesuaikan dengan aplikasi maupun
kebutuhan pengguna. Saat ini, perangkat isi ulang untuk berbagai
keperluan telah banyak tersedia di pasaran. dari pengisian baterei untuk
komputer jinjing hingga kamera dijital telah diproduksi dengan hasil
yang mengagumkan.
Hubungkanlah perangkat elektronik anda
selama beberapa jam sambil berpergian, maka beterei perangkat anda akan
selalu bertenaga. Mengingat daya tahan baterei isi ulang yang cukup
lama, maka pengisian beberapa jam dikala matahari bersinar dapat
memperpanjang masa pakai dari perangkat elektronik tersebut.
Cukup banyak variasi charger bertenaga surya ini. Mulai dari charger dengan sel surya terpisah hingga yang menyatu dengan charger
itu sendiri, atau yang berukuran sebesar telepon genggam hingga yang
berukuran sebuah komputer jinjing, pun dengan spesifikasi yang berbeda.
Yang cukup unik saat ini ialah charger yang
fleksibel dalam artian dapat ditekuk hingga menghemat tempat. Dengan
menggunakan substrat polimer/plastik, maka sel surya tersebut dapat
elastis atau melengkung sehingga cukup tahan dengan segala kondisi
perlakuan penyimpanan. Pada umumnya, cukup dengan sel surya berdaya 0.5
hingga 3 Watt saja, maka hambatan dalam menemui sumber listrik untuk
pengisian baterei dapat teratasi.
Murah, felksibel, ringan dan berdaya tahan lama merupakan beberapa alasan untuk memakai perangkat bertenaga surya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar